Klasifikasi Anak Tuna Rungu

Klasifikasi Anak Tuna Rungu

Klasifikasi anak tuna runguPada artikel yang lalu kita telah membahas tentang bahasa isyarat dan karakteristik anak tuna rungu. Kali ini kita akan membahas juga tentang klasifikasi anak tunarungu. Klasifikasi tersebut bisa dibedakan menjadi beberapa. Jika kita melihat berdasarkan kondisi tingkat kehilangan pendengaran yang biasanya ditunjukkan dengan satuan decibel (dB) klasifikasi tuna rungu dapat dibedakan menjadi:

Kondisi tuna rungu sangat ringan (27 – 40 dB)

Anak yang tergolong dalam kategori tuna rungu ringan dan tergolong dalam ukuran antara 27 – 40 dB masih mampu mendengar suara dalam jarak yang dekat. Dalam proses belajar mengajar di sekolah, kesulitan ini masih bisa diatasi dengan menempatkan anak ada posisi strategis.

Kondisi tuna rungu ringan (41 – 55dB)

Seorang anak yang mengalami kondisi tuna rungu dalam tingkatan ini hanya mampu mengerti percakapan dalam jarak 3 – kaki dan harus dalam keadaan berhadap-hadapan. Anak dalam kondisi ini sudah tidak dapat memahami percakapan dalam bentuk diskusi dan biasanya sudah membutuhkan alat bantu dengar dan terapi wicara. Terapi wicara sudah dibutuhkan karena kurangnya kosakata yang masuk ke otak sehingga berpengaruh pada kemampuan bicara.

Kondisi tuna rungu sedang (50 – 76 dB)

Kondisi anak tuna rungu pada tingkat ini sudah membutuhkan bantuan alat bantu dengar sepanjang waktu. Anak tuna rungu pada kondisi tersebut masih dapat belajar berbicara dengan mengandalkan batuan pendengaran.

Kondisi tuna rungu berat (71 – 90 dB)

Pada tingkatan ini anak dengan kondisi tuna rungu tidak dapat belajar berkomunikasi tanpa ada teknik-teknik khusus dan secara edukatif anak dalam tingakatan ini sudah dianggap tuli. Kebutuhan untuk belajar bahasa isyarat juga sudaj mulai mengemuka pada tingkatan kondisi tersebut.

Kondisi tuna rungu parah/ekstrem/tuli (Diatas 90 dB)

Pada sebagian kecil kelompok dalam tingkatan ini mungkin masih dapat mendengar suara yang keras. Orang tuna rungu dalam tingkatan ini cenderung untuk mengenali suara melalui getarannya daripada pola suaranya jika kita melihat berdasarkan saat terjadinya, kondisi tuna rungu dapat dibedakan menjadi 2 yaitu kondisi tuna rungu pra bahasa dan pasca bahasa.

Yang dimaksud kondisi tuna rungu pra bahasa adalah kondisi tuna rungu yang terjadi sebelum seseorang belajar dan mengembangkan bahasanya. Sedangkan kondisi tuna rungu paska bahasa adalah ketika seseorang kehilangan pendengarannya setelah belajar atau mempunyai konsep berbahasa.

Yang berikutnya adalah klasifikasi tuna rungu didasarkan pada letak anatominya dapat dibedakan menjadi kondisi tuna rungu tipe konduktif, sensorineural dan gabungan antara keduanya. Yang dimaksud tipe tuna rungu tipe konduktif adalah jika kerusakan pada pendengarannya terdapat pada telinga bagian luar yang berfungsi sebagai alat pengantar suara. Sedangkan tipe sensorineural adalah kondisi tuna rungu yang disebabkan pada rusaknya saraf pendengaran. Tipe ketiga yang merupakan gabungan dari keduanya adalah klasifikasi tuna rungu yang disebabkan oleh rusaknya pendengaran pada bagian luar dan pada saraf pendengarannya.

Yang terakhir adalah berdasarkan asal usulnya, kondisi tuna rungu diklasifikasikan menjadi tuna rungu endogen dan eksogen. Tipe endogen adalah tuna rungu karena keturunan dan eksogen karena faktor non genetis.

Demikian penjelasan mengenai berbagai macam klasifikasi tuna rungu. Semoga dengan mengetahui dan mengerti berbagai macam klasifikasi tersebut dapat menambah pemahaman kita mengenai kondisi tuna rungu.

Sumber gambar : http://4.bp.blogspot.com/-2z7rlbIXjdU/UohxGoh2TTI/AAAAAAAAAMk/–TNPRCa55o/s1600/blog++3.jpg

Leave a Reply

2 Comments on "Klasifikasi Anak Tuna Rungu"

Notify of

maaf, saya sedang menulis artikel ilmiah mengenai anak tunarungu dan bermaksud mengutip tulisan di atas. kalau boleh tahu siapakah penulis artikel ini? terimakasih.