Aslimah, Difabel Pengrajin Akar Wangi

Aslimah, Difabel Pengrajin Akar Wangi

Aslimah, Difabel Pengrajin Akar Wangi

Awalnya tak mudah bagi Aslimah (27) untuk menerima kondisinya. Rasa malu dan putus asa pernah menghantui Aslimah sebelum akhirnya Ia mendapatkan undangan dari YAKKUM. “Setelah mendapatkan undangan dari YAKKUM kemudian saya dibina di YAKKUM selama beberapa tahun, akhirnya saya bisa melanjutkan sekolah saya SMA di Kudus dan perlahan-lahan saya mulai bisa menerima kondisi ini dan memahami bahwa bentuk saya yang sempurna adalah Aslimah yang sekarang ini,” ujar Aslimah.

Meski hinaan dan berbagai kendala sering Ia hadapi selama menempuh pendidikan di sekolah normal, namun Aslimah tak lantas menyerah dan menerima nasib yang Ia alami. Selama menempuh pendidikannya di Kudus, bahkan Aslimah belajar hidup mandiri dan mampu menyelesaikan pendidikannya dengan baik. “Saya ingin membuktikan kepada orang-orang, bahwa penyandang difabel juga bisa hidup mandiri tanpa meminta belas kasihan pada orang lain,” ucap wanita kelahiran 3 Desember 1987 tersebut.

Terlahir dari 8 orang bersaudara, Aslimah semakin bersemangat menjalankan hidupnya setelah bertemu dengan Wahyu yang kini menjadi pasangan hidupnya. “Waktu itu saya diperkenalkan di keluarga Mas Wahyu, awalnya memang keluarga Mas Wahyu menentang. Namun kami ingin membuktikan bahwa pemikiran mereka tidak benar, hingga akhirnya saya dan Mas Wahyu memutuskan untuk hidup mandiri dan merantau di Yogyakar dengan merintis bisnis kerajinan akar wangi,” katanya.

Bisnis Akar Wangi Dengan Modal Rp 250.000,00

Menceritakan perjalanannya merintis bisnis kerajinan akar wangi bersama sang suami, Aslimah selalu tertawa ketika mengenang masa-masa awal merintis usaha. “Modal awal kami hanya Rp 250.000,00 dan modal nekat, jadi kami kerjakan saja dulu dan tidak memikirkan berhasil atau gagal kedepannya,” kenang Aslimah sembari tersenyum.

Ketika menjalankan usahanya, Aslimah mengaku masalah modal menjadi salah satu kendala yang menghampirinya selama ini. Akan tetapi, kendala ini tak menyurutkan semangat mereka untuk bisa mandiri dan mengembangkan bisnis kerajinan akar wangi. “Saya terus mengumpulkan sedikit demi sedikit modal dari hasil penjualan yang saya dapatkan. Saya juga mulai memperluas pasar dengan menitipkan produk akar wangi di beberapa teman dan penjual souvenir di bandara,” jelas wanita yang sehari-harinya berjualan souvenir di Rumah Mbah Marijan tersebut.

Setiap bulannya, Aslimah mampu memproduksi sedikitnya 40 pcs boneka akar wangi dan sekitar 100 pcs gantungan kunci. Kendati dari segi pemasaran bisa dikatakan bisnis kerajinan akar wangi ini belum optimal, namun dalam sebulan omzet yang didapatkan Aslimah dan suami kurang lebih berkisar Rp 1.500.000,00.

Kedepannya, Aslimah berharap bisa mendapatkan kebahagiaan seperti orang-orang lainnya dan bisa mengembangkan bisnis kerajinan akar wangi ini bisa lebih besar lagi. “Pesan saya untuk teman-teman sesama difabel, tetap semangat dan berusaha karena kita harus percaya bahwa setiap manusia dilahirkan di dunia ini pasti memiliki arti dan memberikan manfaat bagi orang lain,” pesan Aslimah untuk teman sesama difabel.

Leave a Reply

Be the First to Comment!

Notify of